Daerah

Diskusi Budaya Dorong Pelestarian Sastra Lisan “Dodoi Anakku Sayang”

Diskusi Budaya Dorong Pelestarian Sastra Lisan “Dodoi Anakku Sayang”

Indragiri Hilir — Upaya pelestarian budaya lokal kembali digaungkan melalui diskusi sastra lisan bertajuk “Pelestarian dan Dokumentasi Sastra Lisan Dodoi Anakku Sayang Masyarakat Melayu Indragiri Hilir”.

 Kegiatan yang digagas Tim Pegiat Budaya ini menjadi langkah penting dalam mendokumentasikan salah satu warisan tradisi lisan Melayu yang masih hidup di tengah masyarakat, khususnya di wilayah Concong Luar, Kabupaten Indragiri Hilir.

Dalam forum tersebut, hadir sejumlah narasumber yang merupakan maestro pelantun nyanyian Dodoi Anakku Sayang, yakni Ibu Anita Thorsia, Ibu Suryanti, dan Ibu Maimunah, bersama Ketua Penanggung Jawab Program, Redovan Jamil, S.Pd., M.Pd.

Diskusi mengupas makna mendalam dari nyanyian dodoi sebagai tradisi pengantar tidur yang tidak sekadar berfungsi sebagai hiburan, melainkan juga sebagai media pendidikan, doa, spiritualitas, serta sarana pewarisan nilai-nilai budaya Melayu.

Para pemateri menegaskan bahwa setiap bait dalam Dodoi Anakku Sayang sarat dengan doa, kasih sayang, serta nasihat yang ditanamkan orang tua kepada anak sejak dini.

 Dalam masyarakat Melayu Indragiri Hilir, tradisi ini juga berperan penting dalam membangun kedekatan emosional antara ibu dan anak, sekaligus menanamkan nilai moral dan religius secara halus dan berkesinambungan.

Ketua program, Redovan Jamil, mengungkapkan bahwa inisiatif pelestarian ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan atas semakin memudarnya perhatian generasi muda terhadap budaya daerah. Ia menjelaskan, pada masa lalu, anak-anak Melayu tumbuh dengan syair, pantun, dan nyanyian yang penuh makna. Namun kini, jumlah penutur dan pelantun Dodoi Anakku Sayang kian berkurang.

“Dokumentasi menjadi langkah mendesak agar tradisi ini tidak hilang ditelan arus modernisasi,” ujarnya.

Ia juga berharap ke depan Dodoi Anakku Sayang dapat diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda, sehingga mendapat pengakuan lebih luas sekaligus perlindungan yang berkelanjutan.

Camat Concong, Ahmad Bahrin, S.KM., M.H., turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia mengaku memiliki kedekatan emosional dengan tradisi dodoi, karena pernah merasakannya secara langsung di masa kecil.

“Saya masih ingat beberapa bait dan nadanya. Ini bukan sekadar lagu, tetapi bagian dari kenangan dan pembentukan karakter,” ungkapnya.

Sementara itu, Lurah Concong Luar, Muchlis, S.E., menyambut baik kegiatan ini dan berharap pelestarian sastra lisan terus dilakukan secara berkelanjutan. Ia juga menekankan bahwa wilayah Concong masih memiliki beragam tradisi lain yang perlu dijaga, seperti tradisi manongkah kerang dan tepung tawar.

Secara ilmiah, Dodoi Anakku Sayang merupakan bagian dari tradisi lisan Melayu yang diwariskan secara turun-temurun melalui ingatan kolektif masyarakat. Ciri khasnya terletak pada irama yang lembut dan berulang, penggunaan diksi sederhana, serta struktur yang fleksibel sehingga memungkinkan variasi dalam setiap pelantunan.

Bahasa yang digunakan pun mencerminkan dialek Melayu setempat, menjadikannya sebagai representasi identitas lokal.

Lebih dari itu, tradisi ini juga mengandung nilai religius, seperti doa, zikir, serta pesan moral keislaman yang disampaikan secara halus.

Dengan demikian, Dodoi Anakku Sayang tidak hanya berfungsi sebagai nyanyian pengantar tidur, tetapi juga sebagai media internalisasi nilai, pembentukan karakter, dan penguat jati diri budaya masyarakat Melayu.

Melalui diskusi ini, ditegaskan bahwa pelestarian sastra lisan bukan sekadar menjaga sebuah tradisi lama, melainkan merawat ingatan kolektif, nilai-nilai luhur, serta marwah budaya agar tetap hidup di tengah arus perubahan zaman.

Di era modernisasi yang kian pesat, Dodoi Anakku Sayang menjadi pengingat bahwa budaya lokal adalah bagian penting dari identitas yang harus terus diwariskan kepada generasi mendatang.