Kanal

Sawer Panganten Meriahkan Pernikahan Elisa dan Muhktarom, Tradisi Sunda yang Tetap Lestari di Desa Danau Tiga

RENGAT BARAT, INHU — Suasana resepsi pernikahan putri sulung pasangan Cacak Gunawan dan Sri Yulianti di Desa Danau Tiga, Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, Minggu (20/9/2026), berlangsung meriah.

Bukan hanya rangkaian akad dan resepsi yang menarik perhatian para tamu undangan. Salah satu tradisi khas Sunda, yakni sawer panganten, turut menjadi momen yang paling ditunggu dan mengundang keceriaan.

Tradisi tersebut digelar sekitar pukul 10.00 WIB, setelah rangkaian akad nikah selesai. Kedua mempelai, Elisa Olivia dan Muhktarom, putra almarhum Bapak Demiati dan Ibu Sritunggal, kemudian mengikuti prosesi sawer panganten yang menjadi salah satu warisan budaya dalam pernikahan adat Sunda.

Tradisi sawer panganten bukan sekadar menebarkan uang kepada para tamu. Di dalamnya terkandung pesan, doa, nasihat serta harapan agar kedua mempelai dapat menjalani kehidupan rumah tangga dengan penuh keharmonisan, kebersamaan dan saling menghargai.

Dalam tradisi Sunda, benda-benda yang digunakan untuk sawer biasanya memiliki makna simbolis. Di antaranya beras, kunyit, bunga, sirih, permen hingga uang logam maupun uang kertas. Benda-benda tersebut kemudian ditebarkan kepada tamu dan masyarakat yang berkumpul di sekitar pasangan pengantin.

Begitu prosesi dimulai, suasana pun sontak berubah meriah. Anak-anak hingga orang dewasa terlihat antusias berkumpul di sekitar pasangan pengantin untuk memungut uang yang disawerkan.

Tawa dan keceriaan pecah ketika uang mulai ditebarkan. Para tamu pun ikut menikmati suasana tersebut sebagai bagian dari kemeriahan pesta pernikahan.

Prosesi sawer panganten dipimpin oleh salah satu tokoh seni di Kecamatan Rengat Barat, Abah Surya. Dengan kepiawaiannya, Abah Surya menyampaikan wejangan kepada kedua mempelai menggunakan bahasa Sunda yang dilantunkan dengan gaya khas, menyerupai syair, pantun dan tembang.

Nasihat yang disampaikan menjadi bagian penting dalam prosesi tersebut. Kedua mempelai diingatkan untuk membangun rumah tangga dengan saling menghormati, menjaga keharmonisan serta tetap menghargai keluarga masing-masing.

Kemeriahan tradisi tersebut turut disaksikan para tamu undangan, termasuk Kadus I Legiayanto.

Menurut Legiayanto, kegiatan sawer panganten tersebut menjadi sesuatu yang menarik karena baru pertama kali dilaksanakan di lingkungannya.

“Sangat seru dan baik sekali. Terutama saat para hadirin berebut uang yang disawerkan,” ujar Legiayanto.

Ia berharap kegiatan budaya seperti ini tidak berhenti hanya pada satu acara pernikahan. Menurutnya, tradisi dan budaya lokal perlu terus dikenalkan kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

“Semoga kegiatan budaya seperti ini bisa terus dilestarikan. Bukan hanya adat dan budaya suku Sunda, tetapi adat dari suku-suku lainnya juga dapat dilestarikan sesuai budaya masing-masing,” harapnya.

Menurutnya, keberagaman merupakan salah satu kekayaan masyarakat di wilayah tersebut. Berbagai suku dan latar belakang hidup berdampingan sehingga tradisi masing-masing dapat menjadi bagian dari warna kehidupan masyarakat.

Prosesi sawer panganten di kediaman Cacak Gunawan dan Sri Yulianti akhirnya bukan hanya menjadi bagian dari kemeriahan pernikahan Elisa dan Muhktarom, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali warisan budaya Sunda kepada masyarakat.

Di tengah perkembangan zaman, tradisi seperti sawer panganten menjadi pengingat bahwa sebuah pernikahan bukan hanya tentang menyatukan dua insan, tetapi juga mempertemukan keluarga, mempererat silaturahmi dan menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah masyarakat.(sur)

Ikuti Terus Riaupower

BERITA TERKAIT

BERITA TERPOPULER