KUANTAN SINGINGI — Suasana berbeda terasa di SMP Negeri 2 Singingi, Kecamatan Singingi, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, saat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Kamis (17/9/2026).
Peringatan yang biasanya identik dengan ceramah dan rangkaian acara seremonial itu kali ini dikemas lebih dekat dengan dunia anak-anak. Para siswa diajak mengikuti perjalanan kisah yang dipenuhi tawa, permainan, kejutan, hingga akhirnya berujung pada suasana haru yang membuat sejumlah siswa dan guru meneteskan air mata.
Sekolah menghadirkan Kak Dudung Sulaeman (KDS), pendongeng Islami asal Riau dari Pekanbaru. Dengan pengalaman di berbagai bidang, termasuk pernah menjadi chef di Timur Tengah dan berkecimpung dalam produksi sinetron kolosal Genta Buana Pitaloka di Indosiar, KDS membawa pendekatan berbeda dalam menyampaikan pesan-pesan keteladanan Rasulullah SAW.
Namun, di SMPN 2 Singingi, seluruh pengalaman tersebut diarahkan pada satu tujuan sederhana: mengajak generasi muda mengenal Rasulullah Muhammad SAW, mencintai beliau, dan memahami bahwa kecintaan kepada Rasul harus tercermin melalui akhlak sehari-hari.
Sejak awal tampil, perhatian ratusan siswa langsung tertuju kepada KDS. Kisah tentang Rasulullah SAW disampaikan bukan dalam bentuk ceramah yang kaku, melainkan melalui storytelling, humor edukatif, ice breaking, sulap, permainan hingga aktivitas bernuansa Pramuka.
Suasana pun pecah oleh tawa.
Terlebih ketika muncul sosok kecil yang menjadi pendamping KDS, yakni Si Bocil, boneka mungil yang tampil dengan tingkah lucu, polos dan spontan.
Kehadiran Si Bocil membuat para siswa semakin larut dalam acara. Ada yang tertawa, ada yang ikut menjawab celotehannya, bahkan sebagian siswa tampak penasaran menunggu setiap kemunculannya.
Tanpa terasa, sekitar satu setengah jam berlalu.
Menariknya, siswa yang semula dikhawatirkan mudah kehilangan konsentrasi justru tetap antusias mengikuti rangkaian acara. Mereka tertawa saat permainan berlangsung, aktif ketika diajak berinteraksi, namun perlahan berubah hening ketika cerita mulai diarahkan kepada kehidupan dan akhlak Rasulullah SAW.
KDS menyampaikan pesan tentang kejujuran, kasih sayang, menghormati orang tua dan guru, menjaga perasaan sesama, serta pentingnya membangun akhlak mulia.
Pesan-pesan tersebut tidak disampaikan dengan bahasa yang berat. Kisah Rasulullah SAW dibawa lebih dekat dengan kehidupan para siswa, sehingga mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga diajak memahami bagaimana keteladanan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari Tawa Menuju Air Mata
Bagian paling menyentuh terjadi menjelang acara berakhir.
Setelah sebelumnya dipenuhi tawa dan keceriaan, suasana tiba-tiba berubah ketika KDS mengajak seluruh siswa dan guru melakukan muhasabah dan doa.
Ratusan siswa yang sebelumnya riuh perlahan terdiam.
Kepala mulai tertunduk. Suasana menjadi hening.
Renungan tentang kasih sayang dan pengorbanan orang tua, perjuangan para guru dalam mendidik, kesempatan untuk memperbaiki diri, serta kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW disampaikan dengan penuh penghayatan.
Suasana yang awalnya penuh gelak tawa itu akhirnya berubah menjadi haru.
Sejumlah siswa dan guru tampak menyeka air mata.
Tangisan tersebut bukan sekadar karena kesedihan, tetapi karena tersentuh oleh pesan yang sederhana namun dalam: mencintai Rasulullah SAW bukan hanya dengan mengagumi kisah hidup beliau, tetapi dengan berusaha meneladani akhlaknya dalam kehidupan.
KDS tampil total dalam menyampaikan pesan tersebut. Kemampuan storytelling, komunikasi panggung, ice breaking, sulap dan permainan edukatif dipadukan menjadi sebuah pertunjukan yang bukan hanya menghibur, tetapi juga sarat nilai pendidikan karakter.
Hari itu, para siswa mendapatkan sebuah pengalaman yang mungkin akan lebih lama mereka ingat.
Dari tawa mereka belajar. Dari kisah mereka mengenal Rasulullah. Dari renungan mereka bercermin. Dan dari doa mereka diajak kembali mengingat orang tua, guru serta pentingnya memperbaiki akhlak.
Maulid Nabi di SMPN 2 Singingi akhirnya bukan sekadar kegiatan untuk memperingati kelahiran Rasulullah SAW.
Lebih dari itu, menjadi momentum untuk menanamkan pesan bahwa ilmu akan semakin berarti ketika dihiasi akhlak, dan kecintaan kepada Rasulullah SAW akan semakin bermakna ketika diwujudkan dalam perilaku.
Semoga pesan yang disampaikan dalam peringatan Maulid Nabi tersebut tidak berhenti ketika acara selesai, tetapi terus tumbuh dalam keseharian para siswa—menjadi anak yang menghormati orang tua, menghargai guru, menyayangi sesama dan menjadikan akhlak mulia sebagai bagian dari kehidupannya.
Dari panggung yang penuh tawa, lahir sebuah renungan.
Dari kisah Rasulullah SAW, tumbuh harapan akan generasi yang berakhlak. (sur)
Sumber media sosial:
FB: Dudung Sulaeman
Instagram: Kak Dudung Pendongeng Riau
TikTok: Kak Dudung Sulaeman Pendongeng Riau